Opini Sisi: Di Jalan Kami Bekerja, Di Jalan Kami Bicara

    Ketika pemerintah menerapkan kebijakan zero ODOL (Over Dimension Over Load) dengan lebih ketat, banyak pihak memujinya sebagai langkah maju menuju tertibnya sistem logistik nasional. Di atas kertas, kebijakan ini memang terdengar ideal—untuk menyelamatkan jalan raya, mencegah kecelakaan, dan menertibkan moda transportasi barang. Namun, di balik niat baik itu, terdapat kenyataan lain yang tak kalah penting: suara-suara kecil yang selama ini bekerja di balik setir, kini merasa ditekan dan tidak diberi ruang.

    Di Grobogan, Jawa Tengah, yang biasanya hanya dipenuhi deru kendaraan dan angin panas jalanan, tiba-tiba berubah menjadi panggung protes. Para sopir truk turun ke jalan, tidak untuk menciptakan keributan, melainkan untuk didengar. Di antara aroma solar, debu jalan, dan suara klakson yang bersahut-sahutan, mereka menyuarakan keresahan yang selama ini terkunci di balik kabin kendaraan.

   Banyak sopir tidak anti aturan. Mereka tidak menolak tertib. Mereka hanya menolak pemaksaan sepihak yang tidak memberi mereka kesempatan untuk bersiap. Banyak dari mereka bahkan tidak pernah menerima pelatihan atau sosialisasi tentang batas muatan yang sah. Mereka juga tidak pernah duduk satu meja dengan pembuat kebijakan. Ketika aturan baru tiba-tiba ditegakkan dengan ketat, sementara ongkos jalan terus melonjak dan tekanan dari pemilik barang makin berat, maka yang terjadi bukan pembenahan, melainkan ketimpangan baru.

    Demo sopir truk di Grobogan bukanlah aksi anarkis. Itu adalah bentuk komunikasi terakhir ketika kanal-kanal formal sudah tak bisa lagi dijangkau. Jalan raya menjadi ruang demokrasi bagi mereka yang tidak memiliki panggung lain untuk bersuara. Bagi sebagian sopir muda, demo itu bukan sekadar simbol perlawanan, tetapi juga jeritan terakhir sebelum mereka benar-benar menyerah, berhenti narik, dan mencari kerja lain—yang mungkin juga tidak mudah mereka dapatkan.

    Negara, tentu saja, berhak menertibkan. Namun penertiban yang hanya berpihak pada angka dan pelanggaran administratif tanpa menyentuh realitas di lapangan hanya akan menciptakan korban baru. Perlu ada perubahan yang manusiawi, pelatihan teknis yang layak, serta sistem perlindungan agar sopir kecil tidak menjadi kambing hitam dalam sistem logistik yang besar dan kompleks.

    Sebab truk-truk yang melintasi jalanan itu bukan hanya rangka baja dan roda berputar. Di balik mesin yang menderu itu, ada manusia. Ada ayah yang mengantar anaknya ke sekolah dari hasil narik. Ada istri yang menanti kabar dari kota ke kota. Ada kehidupan yang bergantung pada setiap kilometer yang ditempuh.

    Sebelum kita dengan mudah melabeli mereka sebagai pelanggar, mari kita bertanya: apakah mereka pernah diberi pilihan yang adil?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Petruk Nagih Janji” di Tengah Deras Hujan: Malam Penuh Gamelan dan Tawa di Sriwedari