“Petruk Nagih Janji” di Tengah Deras Hujan: Malam Penuh Gamelan dan Tawa di Sriwedari

            Langit Solo masih belum berhenti menumpahkan hujan sejak siang tadi, Sabtu, 17 Mei 2025. Hujan deras mengguyur Taman Sriwedari dengan suara gemericik yang tiada henti, memantul di atap seng, dedaunan, dan payung-payung yang bertebaran di halaman gedung Wayang Orang Sriwedari—sebuah gedung pertunjukkan legendaris yang berdiri sejak era colonial Belanda. Terletak di jantung Kota Surakarta. Tapi malam itu, hujan bukanlah penghalang. Sejak pukul tujuh malam, pengunjung mulai berdatangan—rombongan keluarga, mahasiswa, bahkan turis mancanegara tampak menyatu dalam satu antrian. Mobil-mobil menepi, motor dengan jas hujan menepi bergantian, dan travel pariwisata membuka pintu satu demi satu.

Untungnya, sebagian besar penonton telah memesan tiket secara daring. “Kami tidak perlu antre lama,” ujar Pramesti sembari mengusap gelang tiket pada lingkar tangannya. Mahasiswa UMS semester 6 ini tidak datang sendiri, tetapi bersama teman-teman kampus sebagai bagian dari tugas mata kuliah. “Ini kali kedua saya nonton Wayang Orang. Tapi malam ini beda, lakonnya lucu. Siapa yang tidak kenal Punakawan?.”

Gambar 1. Adegan pertunjukan Wayang Orang "Petruk Nagih Janji" di gedung Sriwedari, Sabtu (17/05/2025).

Pukul 20.00 WIB tepat, ruangan yang sebelumnya riuh dengan percakapan dan bunyi kaki beralas basah mulai meredup. Lampu panggung menyala tajam, menyoroti tirai bergambar wayang yang masih tertutup. Dari sisi kiri panggung, alunan gamelan mengalun pelan, lalu naik tempo, seperti mengajak penonton masuk ke dunia pewayangan. Aroma kayu panggung yang lembab bercampur samar dengan sesuatu yang mengganggu—bau samar asap, entah rokok atau vape, menyusup di antara aroma tubuh basah dan karpet tua. “Tadi sempat nyium bau aneh gitu, mirip rokok atau vape sih, padahal harusnya kan dilarang di ruangan ini,” bisik Ilham, mahasiswa UMS lainnya, yang baru pertama kali menonton wayang orang secara langsung.

Pertunjukan malam itu menampilkan lakon “Petruk Nagih Janji”, sebuah kisah satir yang membalut kritik sosial dalam jenaka. Petruk, tokoh punakawan yang biasanya hanya jadi penghibur, malam itu tampil sebagai tokoh utama yang menagih janji Prabu Kresna yang dulu pernah menyanggupi Dewi Prantawati sebagai calon istrinya. Di tengah dialog-dialog Jawa yang dalam dan filosofis, sesekali muncul selipan humor segar yang mengundang tawa—dari sindiran politik hingga gaya bicara kekinian. Anak-anak tertawa kecil, remaja tertawa keras, dan orang tua ikut terkekeh dalam keheningan ruang berpendingin yang tidak terlalu dingin itu.

Namun tidak semua betah. Menjelang pukul 22.00, beberapa orang tua terlihat menggandeng tangan anak-anak kecil keluar dari ruang pertunjukan, mungkin karena mulai mengantuk atau bosan. Salah satu balita bahkan tampak merengek sambil memeluk guling kecil berwarna merah muda. Meski begitu, sebagian besar tetap bertahan hingga akhir. Saat jam menunjukkan pukul 23.00, tirai kembali menutup, gamelan berhenti mengalun, dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruang. Wajah-wajah penonton tampak puas—beberapa masih membicarakan adegan-adegan lucu atau yang menyentuh hati. Keluar dari gedung, gerimis tipis menyambut penonton. Jalan basah berkilau diterangi lampu jalan. Beberapa orang membuka payung, beberapa lainnya langsung mengenakan jas hujannya lagi. “Saya jadi ingin nonton lagi,” ujar Pramesti sambil tersenyum. “Wayang ini bukan hanya hiburan, tapi banyak pesan moral yang dapat kita petik."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Opini Sisi: Di Jalan Kami Bekerja, Di Jalan Kami Bicara